Dapatkan Buku Mendidik Karakter dengan Karakter | Hanya Rp. 42.000. Hubungi : 087 888 765 439 dengan Penulis : Ida S. Widayanti, Penerbit : Arga Tilanta, Jakarta, Cetakan : Februari 2012, Tebal : xxvii + 161 halaman

Hanya Rp. 42.000. Hubungi : 087 888 765 439. 0813 212 06635

Tadi malam di rumah saya mati lampu. Fazya, anak terkecil saya yang berusia 2,5 tahun agak takut dengan kegelapan. Saya kemudian teringat dengan sebuah kisah yang terdapat dalam sebuah buku. Lalu, saya praktekkan dan hasilnya luar biasa. “Dede nggak takut gelap lagi, Ayah,” katanya saat bangun tidur.

Inspirasi itu datang dari buku Catatan Parenting 2: Bahagia Mendidik, Mendidik Bahagia karya Ida S. Widayanti. Sepertinya baru kemarin saya mendapatkan buku tersebut. Dan kini, untuk kali ketiga, saya mendapatkan buku lanjutannya Catatan Parenting 3: Mendidik Karakter dengan Karakter.

Sama seperti sebelumnya, buku yang merupakan kumpulan tulisan di rubrik Celah Jendela Keluarga Majalah Suara Hidayatullah ini sangat menginspirasi.

Saya pernah membaca tulisan tentang Bercermin pada Masa Kecil Michael Jackson saat dimuat di Majalah Suara Hidayatullah. Penulis buku ini, mewanti-wanti kepada kita akan bahaya kekerasan verbal, baik hinaan maupun kata-kata yang mengancam karena akan menimbulkan luka mental. Michael Jackson menjadi salah satu korbannya. Dan pelakunya adalah ayahnya sendiri.

Di sekitar kita, lontaran kata-kata negatif seorang ibu atau anak dengan sangat mudah kita dengar. Saat saya mendampingi anak yang mengikuti lomba memasukkan bola ke dalam keranjang, seorang ibu memaki-maki anaknya karena ia tak bisa memasukkan bola. Kata-kata negatif meluncur deras dari mulut seorang ibu.

“Adi payah…letoy,” teriaknya.

“Ayo masukkan bolanya. Masa kalah sama Faza,” teriaknya lagi.

Wajah si anak yang diberondong kata-kata negatif tersebut seketika berubah. Terlihat malu dan putus asa. Tapi si ibu masih saja bersemangat menghujani anaknya dengan caci maki. Seketika saya teringat dengan kisah Michael Jackson.
Ketika mengambil rapot anak, kata-kata yang tak pantas terucap dari seorang ibu juga kerap terdengar.

“Kamu gimana sih, masa matematika dapat nilai 5.”

“Kamu malas. Makanya jangan nakal. Lihat nih rapotnya jelek!”

Tak banyak buku yang mampu memberi inspirasi. Hanya buku yang ditulis dengan bahasa hati yang bisa memantulkan energy positif bagi pembacanya. Hanya buku yang isinya telah dipraktekkan langsung oleh penulisnya saja yang bisa menggerakkan pembacanya. Dan buku ini termasuk salah satu yang sedikit tersebut.

Menurut penulis, sebab Allah telah memberinya tuntunan untuk umat manusia melalui seorang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan kelembutan dan kasih sayang pada anak-anak.

Buku ini sekaligus cerminan perilaku asuh orangtua terhadap anak. Membaca buku ini membuat perasaan kita campur aduk. Saat kita membaca kisah Raja Frederick II dalam Manusia dan Sentuhannya, bisa jadi air mata menitik dari sudut bola mata kita karena kita jarang menyentuh anak-anak kita. Ketika kita membaca kisah seorang ibu yang memarahi anaknya dalam Penularan Emosi, boleh jadi kita merasa bersalah dan berujung sesal. Dan kita akan tersenyum kecil saat membaca kisah seorang anak yang bosan dengan nasehat ibunya dalam judul Bersyukur.

Kejelian dan ketekunan penulis “memungut dan mengumpulkan” ceceran hikmah yang ada di sekitar kita dan sehari-hari kita lakukan, merupakan anugerah tersendiri buat kita. Usai membaca buku ini, insya Allah akan lahir gelombang kesadaran parenting yang kian lama kian membesar; semangat kita membuncah hebat. Dan kita tak lagi merasa sendirian di tengah samudera luas pengasuhan anak karena sudah ada kompas yang akan memandu kita.

Buku yang diendors di antaranya oleh Prof Dr A. Malik Fadjar (pendidik dan mantan Mendiknas 2001-2004), DR Ratna Megawangi (founder Indonesia Haritage Foundation dan Sekolah Karakter), dan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Direktur Auladi Parenting School) ini bermanfaat bagi orangtua dan guru, bahwa sesungguhnya pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini.

Dalam bukunya, penulis yang pernah mengajar di Politeknik ITB selama 12 tahun ini mengemas tulisannya dengan kisah-kisah sederhana, dan ditulis dengan sederhana pula, namun sarat makna. Selain itu, buku ini juga menampilkan tips praktis: membangun kemandirian, nyaman dengan aturan, berbicara yang bermakna, dan lain-lain.

Segeralah baca buku ini! Sebab, kita akan mendapatkan kunci rahasia bagaimana mendidik anak dengan karakter berdasarkan fitrahnya.

*Erwyn Kurniawan (Direktur Eksekutif Sekolah Keluarga dan Sekolah Akhlak Quran)

Buku Mendidik Karakter dengan Karakter
Dunia anak-anak tidak sekecil yang terlihat dari tubuh mereka. Dunia
anak-anak adalah semesta luas yang sering memerangkap orang tua dalam
beragam emosi tak berdasar, mulai dari tidak sabaran, gampang meledak
marah, bahkan pengabaian terhadap ide-ide mereka yang sering orisinal.
Buku Mendidik Karakter dengan Karakter ini memandu orang tua untuk
memasuki semesta luas itu dari berbagai pintu masuk yang, boleh jadi,
belum pernah dicoba para orang tua modern yang telanjur dikepung
banyak kesibukan. Ternyata memahami dunia anak-anak akan jauh lebih
menyenangkan, bahkan bisa mengubah karakter negatif orang tua menjadi
lebih positif, jika contoh-contoh dalam buku yang digarap dengan
cermat ini direnungkan, lalu dipraktikkan dengan riang, seriang
anak-anak itu menjalani dunia mereka tanpa beban.

Akmal Nasery Basral, novelis, Penulis Sang Pencerah

Yang tersaji dalam buku MENDIDIK KARAKTER DENGAN KARAKTER, karya Ida S. Widayanti ini, mengingatkan pada kata-kata hikmah yang artinya: “Sesungguhnya engkau menjadi manusia bukan semata-mata karena jasmanimu, tetapi terutama karena jiwamu”. Maka kehadiran buku ini sungguh memperkaya perbendaharaan dalam mendidik -formal maupun informal, tunas-tunas generasi penerus bangsa.
Prof. Dr. A Malik Fadjar.
Pendidik, Mendiknas 2001-2004

‘Buku ini sangat menarik berisi kisah-kisah yang menginspirasi bahwa sesungguhnya pendidikan karakter terbaik dimulai sejak usia dini. Pesan utama buku ini yaitu dalam membangun karakter anak sangat perlu modelling atau keteladanan karena hanya guru/orang tua berkarakter-lah yang mampu membangun karakter anak-anak.’

(Dr. Ratna Megawangi founder Indonesia Haritage Foundation & Sekolah Karakter)

Heiiii, gak punya semangat mendampingi anak tumbuh besar? Hei, merasa garing setelah melahirkan dan menemani anak setiap hari? Hei, orangtua yang merasa bingung mau ngapain dengan kehadiran anak? Hei, para ayah dan bunda yang merasa beban punya anak, saya benar-benar ingin merekomendasikan Anda baca buku ini.

Aduh.. subhanallah, saya yang dizinkan Allah keliling nusantara dan dunia untuk melatih para orangtua parenting dan juga beberapa kali menulis buku best seller parenting, malah terjerumus menikmati membaca satu demi satu kalimat-kalimat yang ditulis buku ini. Buku yang membakar ruh, semangat, motivasi mendidik anak.

Swerrrrrr! Allahu Akbar yang menggerakan pikiran dan hati orang yang menulis buku ini, semoga jadi ladang shodaqoh, amal luar biasa. Saya kok terlalu yakin orang-orang yang membaca buku ini akan punya semangat baru untuk membesarkan anak. Meski selama ini Anda sudah hebat dan baik mendidik anak, insya Allah setelah membaca buku ini, maka Anda akan lebih rendah hati lagi belajar.

Saya selalu mengatakan kepada puluhan ribu orangtua yang mengikuti kelas-kelas pelatihan orangtua saya: akan selalu ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak. Termasuk, belajar dari membaca buku. Karena buku ini kerena, maka saya kasih peringatan: jangan simpan buku ini di rak buku! Baca berulang-ulang sampai tamat, sampai mendapatkan semangat, baru simpan di rak buku. Ok?

Salam
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting Internasional & National Master Trainer Pelatihan Orangtua di lebih dari 60 kota di 20 Propinsi di Nusantara

Saya belum pernah menjadi seorang pembaca yang “rakus”, sampai bertemu Buku Mendidik Karakter Dengan Karakter ini. Apalagi dengan kesibukan yang tak pernah kunjung habis, jarang sekali saya menyediakan waktu khusus untuk membaca, sebagaimana yang saya sediakan untuk buku ini. Bahkan kalau boleh terus terang, begitu asyik ‘melahapnya’, saya sampai lupa memakai kaca mata. Padahal, mata minus saya tak nyaman untuk diajak membaca tanpa kaca mata.

Bagaimana saya tidak menikmati buku ini? Sepanjang membacanya, pikiran dan hati saya (dan tentunya kepala saya juga, he.. he.. ) dibuat menggeleng-geleng karena menyesal, serta mengangguk-angguk karena merasa tercerahkan. Buku ini juga membuat saya menangis dan berberistighfar karena selama ini ternyata saya sering merusak anak-anak saya sendiri dengan pola asuh yang yang tidak efektif, bahkan kontraproduktif.

Buku Mendidik Karakter Dengan Karakter ini sukses “membius” saya karena judulnya terus terang langsung membuat saya tercerahkan dan penasaran. Terlebih isinya semua sangat inspiratif. Rasanya tak ada kata-kata yang tak “gurih” di buku ini. Apalagi sang penulis banyak memberikan tips-tips praktis sebagai solusi mendidik anak yang sedang saya cari-cari sejak lama. Dan semua itu berpijak pada dua kekuatan vital: pengalaman nyata penulis sendiri dalam mengasuh putra-putrinya; serta kekayaan bobot yang melimpah dari “kerakusan” membacanya.

Namun yang lebih luar biasa adalah, Buku Mendidik Karakter Dengan Karakter ini bukan hanya membuat saya terdorong kuat dan terbimbing hebat dalam mempraktekan pola asuh terbaik bagi anak-anak, tapi juga membuat saya semakin berani untuk menulis buku. Seperti judulnya, isi buku ini ternyata betul-betul telah menyadarkan saya bahwa saya hanya akan betul-betul berarti sebagai orang tua, jika bisa membuat-anak saya bahagia dalam belajar, dan belajar untuk menjadi bahagia sesuai koridor fitrah serta syariat ilahiyah. Inilah kebanggan sejati di hadapan Allah SWT dan ummat manusia. Jadi, tunggu apa lagi?
[Deka Kurniawan, Aktivis “Dakwah Parenting” Sekolah Keluarga (SORGA)/ Sekolah Akhlak Quran (SAKURA)]

“Membaca Buku Mendidik Karakter Dengan Karakter karangan sahabatku ini sungguh membuat saya rindu ingin kembali menimang bayi, memperkenalkan dunia di masa-masa penting dalam hidupnya, menerapkan kiat-kiat dalam buku ini yang belum sempat saya berikan kepada si sulung (17thn) & si bungsu (12thn), dan terpenting, belajar menjadi orang tua dari guru yang cerdas & bijaksana, anak-anak kita. Subhanallah! Teh Ida dear, saya cemburu padamu :-)”. (Chichi Sukardjo, author, life coach & family therapist)

Buku Mendidik Karakter Dengan Karakter
Hanya Rp. 42.000

Hubungi :

087 888 765 439

0813 212 06635